Pages

Monday, October 20, 2025

Perjalanan EXPOSE Vol. 1: Diskusi Buku Mencari Kopi Flores dan Sesi Cupping Kopi Flores

Sekilas Tentang Beng Rahadian 
Komik yang secara khusus mengangkat tema kopi bisa dibilang langka, setidaknya di Indonesia. Semakin langka ketika komik tersebut terbit dalam bentuk buku, bukan potongan komik strip di koran atau majalah. Beng Rahadian adalah komikus yang memilih jalan sunyi itu. 

Komik bertema kopi yang diterbitkan pertama kali oleh pria bernama lengkap Bambang Tri Rahadian ini berjudul 101 Canda Kopi. Komik ini terbit tahun 2015 yang merupakan kumpulan komik strip karyanya di harian Koran Sindo. Berisi tentang ragam fenomena ngopi, dari yang tradisional sampai kekinian, dari perdesaan sampai perkotaan. 

Buku komik 101 Canda Kopi
Beng tidak berhenti di situ. Pada 2016. Beng, yang kini menjabat Kaprodi Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ), menerbitkan buku kedua bertemakan kopi, yaitu Mencari Kopi Aceh. Buku ini merupakan buah pikir yang dituangkan dalam bentuk tesis untuk studi pascasarjananya di IKJ. Bercerita tentang bagaimana kehidupan masyarakat salah satu daerah penghasil kopi terbesar di negeri ini. 
Buku komik Mencari Kopi Aceh
Baru-baru ini, Beng menerbitkan komik kopi paling anyar. Sebuah dokumentasi perjalanan, yang tidak hanya dibukukan, tetapi juga menjadi bagian dari syarat kelulusan studi doktoralnya di Institut Seni Indonesia Bali. Komik kopi tersebut berjudul Mencari Kopi Flores yang baru saja dirilis pada Juni 2025 oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. 

Pertemuan di Festival Kopi Flores 
Pertengahan September 2016, Harian Kompas menggelar acara Festival Kopi Flores di Bentara Budaya, Jakarta. Kopi-kopi dari berbagai daerah di Flores disajikan, lengkap dengan petani dan pemroses kopinya. Tidak hanya itu, festival ini dimeriahkan dengan lokakarya, gelar wicara, sampai pertunjukkan seni tari dan musik khas Pulau Bunga. 
Dokumentasi acara Festival Kopi Flores
Lewat acara ini, penulis berkenalan dengan Beng Rahadian di sebuah stan kopi. Lupa bagaimana awalnya, tetapi kami akhirnya bertukar kontak karena Mas Beng penasaran dengan rute perjalanan solo saya dari Larantuka sampai Labuan Bajo. Trip solo ini memang bukan khusus untuk menjelajahi kebun kopi, tetapi setidaknya memberikan gambaran bagaimana rupa dan rasa Pulau Flores dari mata seorang pejalan. Tak lama, saya memberikan kumpulan tulisan perjalanan saya dan kami saling follow di Instagram. 


Beberapa bulan kemudian, saya baru membaca komik 101 Canda Kopi di sebuah kedai kopi di bilangan Lebak Bulus, Philocoffee. Cerita yang ditampilkan adalah gambaran keseharian masyarakat yang hidupnya tak lepas dari kopi. Unik, kritis, dan menggelitik. Tak lama setelah itu, komik Mencari Kopi Aceh juga terbit. 

Mencari Kopi Flores 
Melalui unggahan di Instagram, Mas Beng tampak sudah memulai perjalanannya ke Flores pada penghujung 2019, berselang tiga tahun dari acara Festival Kopi Flores. Ikut senang melihat Mas Beng berhasil berangkat ke tanah Flobamora. Tak sabar menantikan dokumentasi perjalanan ini yang akan diejawantahkan lewat buku komik. 

Beruntung Mas Beng sempat bertolak ke Flores waktu itu karena tahun berikutnya pandemi melanda dunia. Semua orang “terkunci” di rumah dan perjalanan, baik jarak dekat apalagi yang jauh, dibatasi dengan ketat. Pertemuan-pertemuan luring penuh dengan kewaspadaan akibat penularan virus yang sangat cepat sehingga ruang-ruang perjumpaan digantikan dengan metode daring, termasuk ruang-ruang belajar seperti kelas sekolah sampai kuliah. 

Dengan metode pembelajaran daring tersebut, siapa saja dan di mana saja bisa mengikuti kelas atau seminar yang diadakan lewat layanan seperti Zoom atau Google Meet. Pada masa pandemi tersebut, Mas Beng meramu perjalanannya mencari kopi di Flores untuk menjadi bagian dari disertasinya yang kemudian dipresentasikan dalam beberapa seminar daring. Saya sempat mengikuti satu-dua seminar daring yang terbuka untuk publik. Menarik sekali menyimak akademisi berdialektika membahas sebuah topik terkait kopi dan penciptaan seni. 

Tak disangka sekitar akhir 2023, kembali berjumpa dengan Mas Beng untuk diskusi seputar disertasinya. Disertasi tersebut masih membutuhkan beberapa data penunjang supaya lebih valid dan akurat. Saya diminta sedikit membantu di bagian ini dan tentu dengan senang hati membagi data-data terkait.

Setahun lebih berselang, Mas Beng berhasil mempertahankan disertasinya dan meraih gelar doktor pada Februari 2025. Komik dengan genre Graphic Travelogue ini pun semakin terlihat hilalnya. Potongan materi komik muncul bertahap sebagai bagian promosi yang bikin makin penasaran. Akhir Juni 2025, komik Mencari Kopi Flores resmi terbit ke publik. Acara peluncuran komik ini berlangsung di Bentara Budaya, tempat di mana Festival Kopi Flores hampir satu dasawarsa lalu diadakan, yang membuat Mas Beng berinisiatif menjelajahi tempat kopi Flores tumbuh. 

Inisiatif EXPOSE
Sangat disayangkan bahwa saya berhalangan hadir di acara peluncuran Mencari Kopi Flores padahal sudah cukup lama mengamati proses pembuatannya. Tanpa pikir panjang, saya langsung membeli komik ini di lokapasar daring. Tak sabar ingin segera membaca isinya. 

Komik Mencari Kopi Flores akhirnya tiba dengan ilustrasi rumah adat Wae Rebo sebagai latar belakang, sosok Mas Beng yang berdiri menghadap rumah tersebut sambil membentangkan tangan, serta latar depan tanaman kopi lengkap dengan buah ceri merah dan hijau. 

Bagian awal komik ini menceritakan alasan perjalanan Mas Beng ke sebuah pulau di timur di Indonesia. Ternyata, penulis komik tidak langsung ke Flores, melainkan singgah di Kupang terlebih dahulu. Kedatangannya ke bagian barat Pulau Timor ini menjadi kisah yang juga patut disimak, sedikit banyak memberikan gambaran masyarakat Kupang dan tradisi minum kopinya. 

Setelah berkegiatan di Kupang dan wilayah sekitarnya, perjalanan berlanjut ke Pulau Flores. Membaca bagian ini, halaman demi halaman, sungguh membuat hati saya penuh dengan nostalgia akan keindahan alam dan keramahan warga Nusa Bunga ini. Saya hampir menitikkan air mata saat melihat sketsa lanskap Flores yang tercetak di dua halaman penuh, begitu mempesona. Ada perasaan yang berbeda saat melihat foto dan ilustrasi, dalam konteks membaca buku ini, ilustrasi menerbitkan segurat rasa haru pernah menjejakkan kaki di sana. 

Ingin rasanya mendiskusikan isi buku ini, pertanyaannya adalah dengan siapa saya bisa membicarakan buku ini? Melihat dua judul komik sebelumnya, masih banyak teman-teman di komunitas kopi yang belum mengetahui keberadaan komik-komik tersebut. Berawal dari keresahan inilah, terbersit ide untuk membuat ruang diskusi komik Mencari Kopi Flores

Berbekal pengalaman mengelola acara sewaktu menjadi manajer band indie membuat saya lebih mudah merencanakan dan mengelola acara ini. Konsep awal acara rencananya terdiri dari tiga sesi, yaitu diskusi buku, cupping kopi Flores, dan sesi adu seduh manual kopi. Saya bekerja sama dengan kedai kopi yang juga ruang kolaboratif yang sering saya datangi, yaitu HUS Brew.

Bersama Mas Bagus dan Mas Ari dari HUS Brew, kami pun berembuk menentukan konsep acara yang lebih detail. Saya juga dibantu oleh tim Indonesia Menyeduh dan Mega dari Tamasya Kedai Kopi yang dengan sukarela menjadi media partner. Ada juga Jakarta Coffee Spot yang ikut menjadi media partner yang dihubungi via tim HUS Brew. 

Awalnya, acara ini akan menjadi bagian dari acara rutin HUS Brew, Sunset Cupping, di mana peserta acara dapat mencicipi kopi sembari berbincang dengan mitra penyangrai kopi yang berkolaborasi dengan HUS Brew. Akan tetapi, dikarenakan ada mata acara diskusi buku yang berbeda dari konsep Sunset Cupping, akhirnya diputuskan untuk mencari nama baru untuk acara ini dengan saya sebagai penggagas acara. Selain itu, sesi adu seduh manual kopi juga dieleminasi dari rundown

Sesi cupping adalah aktivitas mencicipi beragam kopi untuk menilai kualitas rasa dan aromanya. Saya coba mencocokkan titik-titik persinggahan Mas Beng di Flores dengan lokasi tanam prosesor kopi yang akan kami ajak kerja sama. Prosesor kopi dengan lokasi tanam yang paling sesuai adalah Adena Coffee, di mana tim Adena Coffee bekerja sama dengan mitra petani kopi di Kelimutu, Manggarai, Bajawa, dan Wae Rebo. 

Saya menghubungi Mas Beng untuk hadir sebagai narasumber di acara komunitas yang perdana saya kelola. Jadwal beliau yang memungkingkan hanya akhir pekan di penghujung Agustus. Jadwal pun dikunci, lanjut menghubungi kawan dari Adena Coffee yang antusias menyambut ide acara ini. Setelah pengisi acara mengonfirmasi, poster pun didesain oleh Dima dari tim HUS Brew. 

Realisasi Acara 
Kami merilis poster acara sekitar dua minggu sebelumnya tanpa tahu apa yang akan terjadi jelang acara nanti. Satu per satu peserta mendaftar lewat direct message Instagram @HUSbrew. Sebagian lainnya mendaftar lewat pesan pribadi dengan saya. Akun @indonesiamenyeduh juga memberikan beberapa tiket gratis untuk para pengikutnya. Kuota peserta hampir penuh. 
Poster Expose Vol. 1
Acara bertajuk “EXPOSE Vol. 1: Diskusi Buku & Sesi Cupping” direncanakan berlangsung Sabtu, 30 Agustus 2025, jam 15.00-18.00, di HUS Brew, Jalan H. Ramli No. 7, Tebet, Jakarta Selatan. Sebuah akhir pekan di penghujung bulan di mana mayoritas pekerja kantoran sudah gajian. Tanpa disangka-sangka, awal pekan di minggu tersebut terjadi demonstrasi besar di depan Gedung DPR RI. Demonstrasi memanas ketika seorang pengendara ojek daring tewas terlindas kendaraan taktis (rantis) barracuda milik Brimob. Gelombang demonstrasi meluas di beberapa titik di Jakarta dan kota-kota lainnya, diikuti pembakaran gedung pemerintahan, fasilitas umum, dan penjarahan rumah-rumah pejabat. Kami pun ikut cemas. Beberapa acara yang berlangsung di radius terdekat titik demonstrasi pun ditunda. 

Sebuah pesan masuk, “Melihat situasi dua hari kemarin, acara besok kita lanjut atau ada penyesuaian?”. Saya terdiam sesaat. Ini harus bagaimana, tanya saya dalam hati. Saya berdiskusi dengan pengisi acara dan penyedia tempat. Kami mencapai sebuah keputusan untuk melanjutkan acara ini, mengingat hidup harus terus berjalan. Selain itu, lokasi kedai kopi ini juga bukan berada di radius area demonstrasi yang selama ini berlangsung (Gedung DPR, Polda, Mako Brimob Kwitang). 

Stick to the plan. Kami menyiapkan area yang akan menjadi lokasi diskusi, yaitu di lantai 2 yang berisi meja panjang dan rak buku. Bersama Mas Ari dan Enda, kami bertiga menggeser meja dan rak buku, merapikan kursi-kursi agar tata letaknya membuat nyaman peserta dan pembicara. Sesi cupping rencananya dilakukan di lantai paling atas di mana bar HUS Brew bertempat. 
Menyiapkan kursi untuk peserta Expose Vol. 1
Belum sampai 24 jam sejak semalam, saya sudah sampai HUS Brew selepas makan siang. Langit kelabu dan rintik tipis mengiringi sepanjang perjalanan menuju kedai kopi di bilangan Menteng Dalam, Tebet ini. Saya hanya bisa berdoa agar rintik ini tidak berubah menjadi hujan besar, setidaknya beberapa jam ke depan. 

Buku Mencari Kopi Flores telah berjajar rapi di meja. Rupanya tim wholesale Gramedia sudah datang terlebih dahulu. Layar televisi untuk menampilkan presentasi pembicara belum diatur, maklum baru saja datang dan belum sempat dipakai. Kami pun coba berbagai cara agar televisi ini bisa mirroring dari tablet saya. Dua buah microphone kabel yang baru sampai tadi malam, hasil meminjam dari seorang kawan saya dan pengeras suara pinjaman dari teman Mas Bagus, sudah terpasang, tetapi tidak bisa dipakai berbarengan. Jadi, hanya bisa dipakai satu saja dan ini sudah cukup. 
Buku komik Mencari Kopi Flores
Mas Beng tiba hampir berbarengan dengan waktu kedatangan saya. Jelang pukul 15.00, semua perlengkapan sudah siap. Peserta yang hadir baru satu dan mengabarkan dua kawannya membatalkan datang. Saya coba mengontak peserta yang daftar, mereka menginformasikan masih dalam perjalanan. Selang 15 menit berlalu, satu per satu peserta bermunculan. Sembari menunggu yang lain, peserta berjalan-jalan ke lantai tiga untuk melihat-lihat pemandangan kota. 

Kami memutuskan untuk memulai acara sekitar pukul 15.30. Diawali dengan perkenalan peserta diskusi, sembari menunggu yang masih di jalan. Saya meminta peserta untuk menyebutkan nama, domisili, dan buku yang terakhir dibaca. Menarik mengetahui variasi bacaan teman-teman yang datang. 

Mas Beng Rahadian bercerita tentang proses penulisan Mencari Kopi Flores
Setelah semua yang datang memperkenalkan diri, saya sebagai moderator mempersilakan Mas Beng untuk duduk di bagian depan. Saya memberi pengantar sebentar, bergeser ke kursi peserta, dan selanjutnya menjadi operator untuk Mas Beng mempresentasikan bagaimana Mencari Kopi Flores tercipta lewat paparan salindia. Saat itu, Mas Beng sedang kurang fit dan suaranya agak serak. Di perencanaan awal, kami tidak terpikir untuk memakai pengeras suara, tetapi tercetus beberapa hari jelang hari H. Untungnya, kami memutuskan untuk menyediakan perangkat ini sehingga Mas Beng tidak perlu terlalu berusaha keras agar suaranya terdengar semua peserta. 
Peserta diskusi
Peserta menyimak dengan seksama. Sebagian mencatat penjelasan Mas Beng, mengangguk-angguk, sesekali mengambil gambar dan video. Usai presentasi Mencari Kopi Flores selesai, saya kembali duduk di samping Mas Beng dan memberi ruang untuk peserta bertanya. Sesi tanya ini langsung dijawab oleh narasumber agar lebih interaktif. Hujan deras turun sebentar di tengah acara, dengan banyaknya sisi ruangan yang terbuka, sempat terciprat sedikit ke area peserta sehingga banyak yang bergeser kursi ke bagian dalam.  

Mas Beng Rahadian bercerita tentang proses penulisan Mencari Kopi Flores
Senang sekali dengan pertanyaan yang kritis dari peserta. Dari bagaimana memilih konflik mana yang bisa masuk menjadi materi cerita dan mana yang lebih baik tidak perlu ditampilkan. Pada bagian ini, pembuat karya perlu memiliki kepekaan akan isi narasi dan bagaimana caranya menyampaikan hal yang sekiranya berisiko. Saat menjawab pertanyaan terakhir dengan isu yang agak sensitif, tiba-tiba mati listrik. Kami curiga ada sesuatu. Jangan-jangan ada intel yang ikut jadi peserta. Hehe. Tak terasa sesi pertama segera berakhir dengan dijawabnya enam pertanyaan dari peserta.


Langit sore masih kelabu sehabis hujan. Peserta diminta menuju lantai tiga untuk lanjut ke sesi berikutnya. Sesi ini untuk melengkapi pengalaman peserta acara di mana setelah mendengar kisah perjalanan menelusuri Flores, peserta dapat mencicipi langsung kopi yang diolah dari tanah Flobamora. 

Sesi ini dipandu oleh Aga dari Adena Coffee yang membawa koleksi terbaru edisi panen tahun ini. Sebenarnya, ini adalah kopi-kopi sampel yang dibawa langsung dari Flores oleh Aby beberapa hari sebelum acara berlangsung. Fresh crop coffee. Ada sembilan koleksi kopi untuk sesi Flores Coffee Cupping kali ini yang berasal dari berbagai daerah di Flores, seperti Tura Jaji (Kelimutu), Manggarai, Wae Rebo, dan Bajawa. Betapa kebetulan bahwa titik-titik lokasi ini adalah persinggahan Mas Beng selama di Flores. 
Aga dari Adena Coffee
Selain berasal dari berbagai daerah di Flores, kopi yang dibawa Adena Coffee memiliki beraneka proses pascapanen kopi yang membuat citarasa kopi semakin menarik. Koleksi kopi tersebut terdiri dari Flores Tura Jaji Full Wash, Flores Tura Jaji Mewangi Honey, Flores Manggarai Giling Basah, Flores Manggarai Hybrid Wash, Flores Manggarai Natural, Flores Manggarai Honey, Flores Wae Rebo Full Wash, Flores Bajawa Full Wash, dan Flores Bajawa Natural. 
Sesi blind cupping
Sesi icip kopi kali ini dibagi menjadi dua bagian. Pertama-tama, peserta diajak menghirup aroma kering, aroma basah kopi, dan mencicipi kopi dengan protokol Covid (cairan kopi diambil menggunakan cupping spoon, lalu dituang ke gelas kecil untuk menghindari kontaminasi); tanpa mengetahui kopi apa yang sedang diselidiki. Istilahnya, blind cupping

Cupping dengan protokol
Selama proses cupping, Aga menjelaskan sekilas tentang bagaimana kerja-kerja Adena Coffee, lokasi mana yang menjadi cakupan, dan relasinya dengan petani serta prosesor kopi. Sembari mencicipi kopi, peserta bertanya-tanya tentang bagaimana mencicipi kopi yang benar, bagaimana perbedaan aroma dan rasa bisa tercipta, serta berbagai topik lain yang membuat obrolan seputar kopi mengalir. 


Setelah semua peserta mencicipi semua koleksi kopi, Aga bertanya kopi nomor berapa yang menjadi favorit setiap orang. Ada kopi yang menjadi favorit dengan pemilih terbanyak, ada kopi yang hanya sedikit dipilih. Informasi kopi pun akhirnya dibuka, peserta jadi tahu kopi daerah mana dan dengan proses pascapanen apa yang menjadi favorit mereka. 


Sesi cupping yang kedua pun dimulai di mana semua tahap dilakukan sama dengan yang pertama, tetapi dengan detail kopi yang sudah diekspos. Ari dan Jovaldi dari HUS Brew dengan sigap memasak air menggunakan ketel listrik dan segera menuang air panas ke gelas-gelas bening yang telah berisi bubuk kopi. Empat menit berlalu, keduanya bergegas membuang ampas kopi yang mengambang agar lebih mudah dicicipi peserta. Sisa dari sesi pertama masih ada sebagian. Di sesi terakhir ini, peserta diajak untuk mencicipi kopi versi panas dan dingin untuk merasakan perbedaan rasa dengan rentang suhu yang berselisih jauh. 

Senang sekali melihat bermacam-macam ekspresi peserta saat sesi cupping. Ada yang terlihat penasaran, serius memperhatikan pemandu acara, menelisik kopi dengan seksama, mencoba meresapi rasa di tiap tegukan, dan tampak puas ketika menemukan kopi yang cocok dengan seleranya. Begini rasanya bahagia melihat acara berjalan lancar dan peserta tampak menikmati setiap mata acara yang disuguhkan. 

Langit abu-abu berganti gelap malam. Acara hampir usai. Perwakilan HUS Brew, Ari, memberikan kata-kata penutup untuk peserta dan pengisi acara. Momen sepatah dua patah kata ini seharusnya di awal acara, tetapi karena kondisi bar yang ramai dan mereka under staff, akhirnya diganti ke penghujung acara. 

Lega rasanya acara telah berakhir dengan segala aral merintang. Terima kasih sebesar-sebesarnya untuk tim HUS Brew (Mas Bagus, Mas Ari, Jovaldi, Joel, Bima, Dima, dan Endah) yang telah memberikan ruang dan kesempatan untuk saya mewujudkan ide acara diskusi buku dan cupping ini. Terima kasih banyak untuk Mas Beng Rahadian yang telah berkenan hadir meluangkan waktu dan energi di acara kecil-kecilan ini. Beribu terima kasih untuk Adena Coffee (Aby dan Aga) yang juga mau ikut berkontribusi di acara perdana ini walau huru-hara melanda ibukota. Terima kasih juga untuk Kak Shinta, Mega dan Tamasya Kedai Kopi, Indonesia Menyeduh, dan Jakarta Coffee Spot yang telah berbaik hati menjadi teman diskusi dan membantu mempromosikan acara ini tanpa pamrih. Terima kasih untuk semua peserta yang berani melangkah ke luar rumah untuk hadir ke Expose Vol. 1 meski kondisi ibukota sedang tidak baik-baik saja. Hati saya rasanya penuh. 

Semoga segera ada edisi berikutnya. Jika ada masukan apa yang menarik untuk dibahas untuk Expose Vol. 2 atau kerja sama aktivasi acara lainnya, silakan tulis di kolom komentar atau hubungi via DM Instagram @kopitala


Dokumentasi acara oleh Bima @bimadarda
Poster acara oleh Dima @dima.namana_ 

Thursday, July 31, 2025

Cerita Perjalanan Ikut Barista Campfire


Poster acara Barista Campfire Vol. 2

Barista Campfire Vol. 2 menjadi ruang berbagi cerita yang hangat tanpa sekat. Menyatu dengan udara yang sejuk, alam yang asri, dan kebun kopi yang rimbun. 

Pegiat kopi berkumpul di acara Barista Camp Fire Volume 2 (BC Vol. 2). Diselenggarakan oleh Poros Kopi, BC Vol. 2 memberikan beragam perspektif dari industri kopi dari hulu sampai ke hilir.

Acara ini berlangsung selama dua hari satu malam, 9-10 Juli 2025, dengan titik kumpul di Faema Showroom di jantung ibukota. Meski harus datang pagi-pagi sekali, peserta tidak perlu khawatir terkait sarapan dan kopi. Panitia menyediakan sarapan dan tersedia kopi untuk menghilangkan kantuk di perjalanan nanti. 

Faema Showroom

Setelah semua peserta berkumpul, rombongan bertolak ke agenda pertama di Kopi Nako Daur Baur yang berlokasi di Bogor. Butuh waktu sekitar 1,5 jam dari Cideng, Jakarta Pusat ke lokasi acara. 


Mengamati Proses Daur Ulang Gelas Kopi di Kopi Nako Daur Baur 

Peserta disambut dengan kopi lagi, kali ini tersedia Americano dingin dengan pemanis rasa peach. Sembari menyesap segarnya es kopi, pihak Kopi Nako mempresentasikan bagaimana Kopi Nako Daur Baur terbentuk; dari kerja sama kampanye dengan pihak ketiga untuk daur ulang, hingga menjadi aktivasi permanen secara mandiri yang berdampak. 

Kopi Nako Daur Baur

Setelah mendapat penjelasan, peserta diajak ke pabrik pengolahan gelas plastik. Gelas plastik yang sudah dicuci kemudian dihancurkan menjadi keping-keping kecil. Selanjutnya, keping-keping ini diberi pewarna untuk kemudian diproses lewat mesin press untuk menjadi palet. Palet pun dipotong sesuai kebutuhan dan tujuan. Hasil akhirnya bisa menjadi meja, jam tangan, tutup tumbler, bar kopi, sampai bilik ATM. 


Menuju Area Perkemahan di Tengah Kebun Kopi 

Agenda berikutnya adalah ke lokasi camping yang berada di tengah perkebunan kopi. Estimasi perjalanan di rundown sekitar dua jam, tetapi jalur yang seharusnya dilewati terhadang banjir sehingga rombongan putar balik dan mengambil jalur alternatif yang memutar jauh. Tidak hanya jalurnya memutar, kami disuguhi beragam rute–dari yang mulus, berbatu, menanjak dan menurun dengan tukikan tajam yang bikin penumpang merapal doa. 

Kami sampai sekitar pukul 16.30 di titik transit, yaitu sebuah warung dengan plang nama tempat berkemah tujuan kami, Rawdee Coffee Plantation. Minibus yang kami tumpangi hanya bisa sampai sini. Akses ke area camping berupa jalan makadam yang hanya bisa dilewati oleh kendaraan yang handal di jalur offroad. Kami dijemput dengan mobil berkabin ganda yang memang jadi fasilitas dari pengelola.

Hari makin gelap karena kabut yang mulai turun di kaki Gunung Halimun. Rombongan minibus pertama dibawa dengan dua mobil kabin ganda sementara rombongan kedua menunggu di warung. Saya yang ada di rombongan pertama melewati jalan makadam dan sungai kecil dalam remang sore dan sapuan kabut. Rombongan ini ke area berkemah tanpa kendala berarti, selain jalan berbatu yang ekstrem dan membuat mobil berjalan amat pelan bak siput. 

Kondisi jalan menuju area kemah

Mobil pengelola pun kembali menjemput rombongan kedua di titik transit. Sayangnya, di tengah perjalanan, salah satu mobil yang membawa penumpang ke area kemah mengalami selip ban. Mobil yang sehat bergegas berangkat agar bisa menurunkan penumpang dan kembali menjemput penumpang yang tertinggal di tengah rute. 

Langit sudah gelap ketika semua rombongan tiba dengan lengkap. Kami menempati tenda-tenda yang telah disediakan, menaruh barang, bersih-bersih, dan bersiap-siap untuk agenda selanjutnya. Area berkumpul sudah dikelilingi tenda terbuka berisi bar kopi, tenda cemilan, area barang panitia, dan area penonton. Gerimis menginterupsi. Jadwal sedikit bergeser, untungnya tak terlalu lama. 

Peserta sampai di area perkemahan

Sembari menunggu gerimis usai, peserta diminta memperkenalkan diri dengan menginformasikan nama, asal. dan bagaimana bisa tahu informasi acara ini yang sangat YTTA (Yang Tau-Tau Aja). Terindikasi banyak peserta berasal dari Depok dan Jakarta sekitarnya. Selain itu, ada juga peserta yang berasal dari luar Jabodetabek seperti, Semarang, Sumatra, dan Papua. 

Menggali Perspektif Ahli Kopi, Roti, dan Harmoni 

Setelah semua peserta memperkenalkan diri, gerimis ikut membubarkan diri. Api unggun menyala di tengah area diskusi untuk memberi kehangatan di tengah dinginnya lembah Halimun.

Acara diskusi dimoderatori langsung oleh penggagas acara, Mas Yudis, segera dimulai dengan narasumber yang ahli di bidangnya masing-masing. Moderator menggali bagaimana setiap narasumber menjalani bisnis kopi, roti, dan ruang dengar musik dengan penuh gairah dan terus bertahan hingga kini. 

Sharing session bersama para ahli

Menarik mendengarkan bagaimana Muhammad Aga yang mulanya bermain teater dan aktif bermusik, mengubah haluan karier menjadi barista. Mencicipi lomba-lomba yang membuatnya semakin dikenal, menjadi aktor, pemengaruh, dan dua kali menjadi barista nomor 1 di negeri ini. Untuk kali pertama, Aga meraih juara barista pada tahun 2018 dan juara barista nasional terbaru di tahun 2025–yang akan berlaga di World Barista Championship pada Oktober mendatang di Milan, Italia.   

Selanjutnya, ada Arif Liberto Jacob yang berasal dari keturunan Belanda Depok dengan marga Jacob. Pria ini membangun Jacob Koffie Huis tahun 2017 dengan tujuan melestarikan rumah peninggalan leluhur. Ketika kedai kopinya sudah berkembang pesat, Arif bisa fokus merawat renjananya terhadap musik dan perangkat audio dengan merilis Emily Listening Space di awal 2021. Bar kopi dengan ruang dengar untuk menikmati lantunan dari vinyl ini menjadi yang pertama di Depok. Emily Listening Space menempati rumah panggung berbahan dasar kayu yang merupakan peninggalan Letjen TNI (Purn) Gustaf Hendrik Mantik, Gubernur Sulawesi Utara periode 1980-1985. Tak hanya mengurus Jacob Koffie Huis dan Emily Listening Space, Arif kini juga berkeliling menjadi pramuirama (DJ) yang menambah syahdu suasana lewat Emily Selector.  

Narasumber berikutnya lebih terkenal akan produk rotinya yang selalu diincar dan bikin antrean mengular. Ada Rocky Martadinata dari Roti Macan dan Tri Tangtu Kopi Roasters (TTKR). Roti Macan menjadi jenama selalu habis dalam sekejap setiap berpartisipasi di festival kopi, sementara toko yang di Bandung selalu diburu warga lokal dan turis yang ingin mengudap roti sourdough yang lembut dengan citarasa yang menggugah lidah. Fokus awal Roti Macan yang terpaku pada riset produk membuat produk ini unggul secara kualitas. Rocky mengaku saking fokusnya tim Roti Macan tidak memikirkan bagaimana marketing produk ini. Energi terserap untuk uji coba untuk mendapatkan rasa yang sesuai selera. 

Di akhir sesi, peserta diberikan kesempatan bertanya kepada tiga narasumber. Diskusi semakin menarik memantik pertanyaan-pertanyaan lanjutan dari moderator. 

Diskusi berakhir dan keakraban kian mengalir. Selepas diskusi, peserta yang tadinya duduk di bawah tenda bergeser ke tengah mendekati api unggun karena hawa yang semakin dingin. Peserta bernyanyi bersama dengan iringan gitar. Sesekali pemain gitar kebingungan mencari kunci untuk lagu berikutnya, bersambut tawa dari yang lainnya. Purnama tampak jelas di langit, sebagian masuk tenda dan memejamkan mata; sebagian lainnya terjaga hingga tengah malam. 

Pagi Syahdu di Tengah Kebun Kopi 

Tidur terasa lebih nyenyak di tengah nyanyian alam lewat jerit serangga dan sepoi halus desir angin. Bangun pun terasa segar seperti mengisi ulang energi yang hilang.

Emily Selector

Sesi Emily Selector yang seharusnya dilaksanakan setelah diskusi semalam diganti ke pagi hari. Sembari menemani peserta menyantap sarapan, Arif dan Dio telah siap memutarkan lagu-lagu dari piringan hitam. Kabut tipis, warna-warni tenda, perbukitan dan kebun kopi yang menghijau menambah suasana syahdu berteman alunan lagu-lagu. Kami kembali disuguhkan kopi yang diolah dari kebun kopi Rawdee dengan tiga varian pascapanen yang dapat kami cicipi, yaitu proses Full Washed, Natural, dan Honey

Mengunjungi kebun kopi 

Selepas sarapan, kami berjalan ke perkebunan kopi yang mengelilingi area perkemahan. Tim Rawdee menjelaskan berbagai hal tentang tanaman kopi yang tumbuh di sana, seperti kondisi awal, luas kebun, kultivar kopi dan ragam bentuk tanamannya, hama yang biasa menyerang tanaman kopi hingga kondisi saat ini yang sudah jauh lebih baik. 

Selanjutnya, kami menuju ke area pengolahan ceri kopi. Ini adalah tempat di mana kopi yang sudah matang dicuci, dikupas kulit buahnya dan dijemur sesuai kebutuhan proses pascapanen. Setiap proses pascapanen punya metodenya sendiri yang memberikan citarasa berbeda pada biji buah kopi dari kebun yang sama.  

Rumah jemur kopi
Rumah jemur kopi

Setelah dari rumah jemur kopi, rombongan menuju curug yang ada di sekitar area perkemahan. Walaupun terbilang dekat, dengar-dengar treknya menantang dengan rute yang terjal nan licin. Oleh karena itu, saya memutuskan undur diri dari rombongan yang ke curug karena ada cedera lutut yang belum sembuh total.  

Saya kembali ke area kemah dan ternyata ada beberapa bapak-bapak yang juga tidak ikut. Saya ikut nimbrung perbincangan terkait kompetisi dan industri kopi yang seru ini. Ada Pak Hendra seorang juri kopi level internasional, Pak Mario dari perwakilan brand mesin kopi, dan Rocky dari TTKR & Roti Macan. 

Perkebunan kopi di kaki Gunung Halimun.

Setelah ngobrol-ngobrol, saya jalan kaki di sekitar area perkemahan. Menikmati desir angin, gemirisik daun, dan pekik tonggeret yang berbunyi tanpa henti. Berada di tengah alam membuat suasana hati terasa lapang dan sejuk. Bernafas dengan oksigen yang melimpah, bertemu dengan orang-orang yang punya minat yang sama, musik dan obrolan yang menggugah–semuanya bikin hati penuh dengan rasa syukur. 

Beruntung sekali bisa ikut acara ini, meski awalnya sempat penuh kuota ketika awal mendaftar. Masuk daftar tunggu sekitar seminggu hingga akhirnya dihubungi Mas Yudis bahwa ada peserta yang batal. Slot untuk saya akhirnya tersedia dan segera saya mendaftar via situs yang disediakan. 

Rombongan dari curug datang dan bersamaan dengan itu makan siang juga disiapkan panitia. Selesai makan siang adalah waktunya berkemas. Kembali ke realita. 

Seluruh peserta dan panitia Barista Camp Fire Vol. 2

Seluruh foto dokumentasi pribadi, kecuali foto "Rumah jemur kopi" dan "Seluruh peserta dan panitia Barista Camp Fire Vol. 2" oleh Faizal Ramadhan. 

Foto yang lebih lengkap akan diunggah berkala di Instagram @kopitala


Monday, February 17, 2025

World of Coffee Asia 2025: The Growth of Jakarta's Specialty Coffee

Indonesia and World of Coffee Asia 2025

Jakarta will host World of Coffee Asia 2025 in May, reinforcing Indonesia's position as both a coffee-producing and coffee-consuming country with rapid growth. This global coffee event is typically held in countries with strong coffee consumption cultures. For instance, the World of Coffee 2024 series was previously held in Chicago (United States), Busan (South Korea), and Copenhagen (Denmark).

    With World of Coffee Asia taking place in Indonesia, coffee industry players from around the world will gather to share insights and discuss the evolving specialty coffee industry, which continues to captivate urban communities.

brewing, coffee, specialty
Image source: : Envato

The Growth of Specialty Coffee in Indonesia

The specialty coffee movement in Indonesia has been growing for over 15 years. This trend became more apparent in 2010-2011 when numerous coffee shops emerged, fueled by the third wave coffee phenomenon. During this era, coffee consumers were no longer just visiting cafés for the ambiance but also developing a keen interest in coffee origins, processing methods, and brewing techniques (Yandhrie Arvian, et. al., 2018).

    The term "specialty coffee" was first introduced by Erna Knutsen in a 1974 publication in Coffee & Tea Journal, referring to high-quality coffee beans grown in unique microclimates with distinctive flavors (Sarie Febriani, 2018).

    In Indonesia, specialty coffee gained traction through the USAID-funded Agribusiness Market and Support Activity (AMARTA) Project, which aimed to enhance the quality of agricultural commodities, including coffee, by implementing high industry standards.

coffee, roasting, machine
Image source: Envato

Specialty Coffee Standards by SCA

To be classified as specialty coffee, coffee beans must meet strict criteria set by the Specialty Coffee Association (SCA), including:
✔ A cupping score above 80, evaluated by certified Q-Graders.
Zero primary defects in a 350-gram sample of green beans.
No more than 3 points for secondary defects.
No quaker beans (underdeveloped, unripe coffee beans).
Moisture content must be between 9-13%.
Uniform bean size to ensure consistent brewing quality.
Unique and distinctive flavor profile, validated through the SCA cupping protocol.

man roasting coffee
Image source: Envato

Third Wave Coffee and the Rise of Coffee Roasters in Jakarta

In her interview for the book Kopi: Aroma, Rasa, Cerita (2018), Mira Yudhawati explained that third wave coffee was introduced to Indonesia by Indonesians who had studied or worked abroad. Australia, where the specialty coffee culture had already matured, was one of the key influences on this movement.

    Since then, the high-quality coffee industry in Indonesia has flourished, especially in major cities like Jakarta. The growing demand for specialty coffee beans led to the emergence of numerous coffee roasters, which cater to both café owners and home brewers. Today, specialty coffee beans are easily accessible via online marketplaces, offering everything from commercial and premium coffee to highly sought-after specialty-grade beans.

Top Specialty Coffee Roasters in Greater Jakarta (Jabodetabek)

With the rise of third wave coffee, numerous specialty coffee roasters have been established in Jakarta and its surrounding areas. Some even predate this trend, laying the foundation for today's specialty coffee movement. Here are some of the best and longest-standing roasters in Jakarta and Greater Jakarta (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi):

Caswell Coffee (Since 1999)

Caswell Coffee is one of the pioneers of specialty coffee roasting in Jakarta. Since 1999, Caswell has supplied premium-quality coffee beans to hotels and high-end F&B establishments. In 2017, Caswell Coffee was acquired by Singapore-based Boncafe, further expanding its market reach.

  • Coffee selection: Local and international
  • Location: Jl. RS Fatmawati Raya No. 15A, Cilandak, South Jakarta
  • Marketplace: Tokopedia Boncafe Indonesia
Jakarta's Specialty Coffee Roasters Based on Established Year

Aside from Caswell Coffee, here are other specialty coffee roasters that have thrived since the third wave coffee movement began:

  • Roasters that initially started as cafés before expanding into roasting businesses.
  • Roasters that focused solely on coffee roasting for individual consumers and F&B businesses.
  • Roasters that also sell coffee brewing equipment and cater to the hospitality sector (hotels, restaurants, cafés).

    These roasters play a crucial role in shaping Indonesia’s specialty coffee industry, supporting local coffee shops, home brewers, and even exporting specialty coffee to international markets.

  • Roaster: Anomali Coffee Established: 2007
    Coffee selection: Local
    Location: Jl. Senopati No. 19, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (first branch)
    Marketplace: Tokopedia Anomali Coffee
  • Roaster: Maharaja Coffee Roaster  Established: 2008 (based on an interview on the Cikopi Podcast, though some sources mention different year)
    Coffee selection: Local
    Location: Jl. Melawan,No.26, Sawah Besar, Jakarta Pusat 
    Marketplace: Tokopedia Maharaja Coffee 
  • Roaster: Philocoffee Established: 2010
    Coffee selection: Local, international
    Location: Jl. Raya Cirendeu. No. 20, Ciputat Timur, Tangerang Selatan 
    Marketplace: Tokopedia Philocoffee  
  • Roaster: Jakarta Coffee House  Established: 2011
    Coffee selection: Local
    Locationt: Jl.Cipete Raya, No. 28, Cilandak, Jakarta Selatan (first branch)
    Marketplace: Tokopedia Jakarta Coffee House   
  • Roaster: Giyanti Coffee Roastery
    Established: 2012
    Coffee selection: Local
    Location: Jl. Surabaya, No. 20, Menteng, Jakarta Pusat 
    Marketplace: Tokopedia Giyanti Coffee  
  • Roaster: Rumah Kopi Ranin
    Established: 2012
    Coffee selection: Local
    Location: Jl. Alternatif IPB KM 6, Cikarawang, Dramaga, Bogor
    Marketplace: Tokopedia Rumah Kopi Ranin   
  • Roaster: Curious People Coffee
    Established: 2012
    Coffee selection: Local, international
    Location: Green Lake City, Rukan Sentra Niaga, Blok C No. 11, Cengkareng, Jakarta Barat 
    Marketplace: Tokopedia Curious People Coffee  
  • Roaster: Morph Coffee   Established: 2012
    Coffee selection: Local, international
    Location: (online only)
    Marketplace: Tokopedia Morph Coffee
  • Roaster: Rosso’ Microroastery Established: 2013
    Coffee selection: Local
    Location: Pasar Modern BSD Sektor 1 Ruko R21, Jl. Letnan Sutopo, Serpong, Tangerang Selatan
    Marketplace: Tokopedia Rosso’ Micro Roastery  
  • Roaster: Tanamera Coffee Established: 2013
    Coffee selection: Local
    Location: Foodhall, Grand Indonesia, Jl. M. H. Thamrin, No. 1, Tanah Abang, Jakarta Pusat  (retail store)
    Marketplace: Tokopedia Tanamera Coffee   
  • Roaster: Kopikina Established: 2013
    Coffee selection: Local
    Location: Jl. Tebet Timur Dalam Raya, No. 43, Tebet, Jakarta Selatan 
    Marketplace: Tokopedia Kopikina    
  • Roaster: Common Grounds Coffee Roaster Established: 2014
    Coffee selection: Local, international
    Location: Citywalk Sudirman, Jl. K. H. Mas Mansyur No. Kavling 121, Tanah Abang, Jakarta Pusat (first branch) 
    Marketplace: Tokopedia Common Grounds   
  • Roaster: 9Cups Coffee & Roastery Established: 2014
    Coffee selection: Local, international 
    Location: Jl. Taman S. Parman, Blok A4, Grogol Petamburan, Jakarta Barat 
    Marketplace: Tokopedia 9Cups Coffee & Roastery  
  • Roaster: Smoking Barrels Craft Coffee & Roastery Established: 2015
    Coffee selection: Local, international 
    Location: Jl. Cilandak Tengah Raya, No. 8, Cilandak, Jakarta Selatan (first branch)
    Marketplace: Tokopedia Smoking Barrels Craft Coffee  
  • Roaster: Rumah Sangrai Wisanggeni / Wisangkopi Established: 2016
    Coffee selection: Local
    Location: Wisangkopi, Jl. Panglima Polim V, No. 9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (first branch)
    Marketplace: Tokopedia Rumah Sangrai Wisanggeni    
  • Roaster: Gordi   Established: 2016
    Coffee selection: Local, international
    Location: Jl. Jeruk Purut Dalam, No. 25, Cilandak, Jakarta Selatan
    Marketplace: Tokopedia Gordi ID

    Many of these roasteries have endured despite global economic challenges, including the 2020 pandemic. Some have remained small and specialized, while others have expanded their reach by opening multiple branches across Indonesia and even overseas.

    Today, coffee roasting businesses in Indonesia operate on various scales, from nano-roasters specializing in exotic, high-priced beans to large-scale roasters catering to different coffee grades. The industry's growth has led to national roasting competitions since 2022, and in 2023, Indonesia’s Taufan Mokoginta won the World Coffee Roasting Championship.

    With World of Coffee Asia 2025 just months away, Jakarta is set to host one of the world’s most prestigious coffee events. This marks Indonesia’s growing influence as both a top coffee producer and a strong specialty coffee consumer on the global stage.

💡 Did we miss any great specialty coffee roasters? Drop them in the comments below!

👉 Found this information useful or inspiring? Support the writer via Saweria!

Contact the writer through kopitala(@)gmail(.)com.