Pages

Pitutur Kopi: Berkembang lewat Evaluasi

Pitutur Kopi
“Berjalan tak seperti rencana
Adalah jalan yang sudah biasa
Dan jalan satu-satunya
Jalani sebaik-baiknya” (Gas – FSTVLST)

Penggalan lirik dari tembang terbaru band asal Yogyakarta ini seketika mengingatkan pada kisah Ponco Kusumo. Pria pemilik cita-cita sebagai violinis profesional. Sayangnya, tidak semua hal terlaksana sesuai rencana. Tragedi terjadi tanpa kendali. Jalan hidupnya mau tidak mau berubah arah.  

Ponco kini mengabdikan dirinya di industri kopi. Mengambil peran menjadi pemilik sekaligus barista Pitutur Kopi. Sebuah kedai yang menempati rumah di kawasan selatan Yogyakarta. Rumah bercat putih bernuansa asri dengan tanaman rambat menghiasi di Jalan Bausasran 60 menjadi pilihan Ponco membuka usahanya.



Calon Pengacara, Pemain Biola hingga Barista
Selepas SMA, pria asal Magelang ini menempuh pendidikan hukum di salah satu kampus swasta di Yogyakarta. Di tengah perkuliahan di jurusan hukum, ia membanting setir mengejar mimpi menjadi musisi. Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta merupakan kampus di mana Ponco mengasah kemampuan menggesek biola.

Ponco Kusumo
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Menjelang akhir perkuliahan di ISI, Ponco menerima kabar buruk bahwa bahunya cedera berat. Cedera ini membuatnya tidak dapat lagi berlatih seperti biasa dan jika dipaksakan, hanya akan memperparah keadaan.

Jalan hidup menukik dan berbelok tajam. Akan tetapi, pemuda berusia 29 tahun ini masih punya harapan meskipun tidak lagi bergelut menjadi musisi. Menjadi peramu kopi adalah pilihan hidup yang berikutnya. Berbekal ketertarikannya pada dunia minuman berkafein, ia terjun membuka usaha toko kopi.

Masa Pencarian
Semasa kuliah di ISI, Ponco sudah berpenghasilan dari aktivitasnya bermain biola di pertunjukkan-pertunjukkan musik. Pendapatan yang ia raih tidak serta merta dihamburkan begitu saja. Ia mengisi pundi-pundi tabungannya dengan hitungan cermat untuk membuka usaha.

Berawal dari tahun 2010 saat ia bertandang ke Kopi Gelandongan, sebuah rumah minum kopi yang ramai dengan harga terjangkau. Terbersit di benaknya untuk membuat warung kopi seperti Kopi Gelandongan. Harap itu ia simpan baik-baik dalam hati.

Seputar 2014, ia mulai menekuni dunia kopi. Mempelajari lebih dalam lagi tentang minuman hitam ini. Perlengkapan menyeduh satu per satu ia beli untuk mempraktikkan informasi yang didapatkan. Di masa-masa itu pula, ia mulai berkeliling mencari-cari lokasi untuk membuka usaha.

Ruko bukan incaran. Hunian berbentuk rumah yang selalu ia cari-cari dengan harap-harap harganya sesuai dengan kondisi tabungan. Pertengahan 2016, harap itu berbuah nyata. Bangunan bekas taman kanak-kanak di Jalan Bausasran 60, Pakulaman, didaulat menjadi tempat minum kopi.

Kopi, Kultur, Literatur
Pitutur Kopi menjadi pilihan nama untuk tempat minum kopi yang dibangun Ponco. Berasal dari Bahasa Jawa dan Sunda yang berarti petuah. Pria kelahiran 11 September 1989 ini mengatakan bahwa Pitutur merupakan akronim dari kopi, kultur, dan literatur yang menjadi visi dan misi dari kedai kopinya.

Masa awal dibukanya Pitutur Kopi hanya menyediakan seduhan kopi yang diracik dengan alat-alat seduh manual. Menu yang ditawarkan sederhana, terdiri dari racikan kopi yang diseduh dengan alat seperti V60, AeroPress, Vietnam drip, Chemex hingga Syphon yang sampai saat ini malah tidak pernah terpakai. Menu selain kopi terdapat cokelat panas dan kudapan berupa cireng.



Manifestasi dari kultur atau budaya tercermin dari kegiatan Coffee Cantata yang digelar berkala. Aktivitas ini memberikan ruang apresiasi para musisi, khususnya musik klasik, untuk dapat didengar lebih luas lagi. Selain musik, terdapat sesi nonton bareng film-film pilihan hingga eksebisi untuk karya-karya visual.

Deretan buku-buku sastra di perpustakaan kecil pojok kanan kedai menjadi bukti keseriusan Pitutur Kopi menyematkan literatur dalam akronim namanya. Karya-karya penulis handal dunia dan Indonesia seperti Haruki Murakami, Orhan Pamoek, Albert Camus, Pramoedya Ananta Toer, Y.B. Mangunwijaya hingga Dewi ‘Dee’ Lestari berjejer rapi menunggu untuk ditelusuri. Setiap bulan Ponco juga menambah koleksi novel atau kumpulan puisi pilihannya. Buku-buku seputar kopi tersedia untuk menambah wawasan para penikmat kopi.

Perpustakaan mini Pitutur Kopi
Kopi yang tersaji bagi para pelanggan dikurasi dengan amat teliti. Terdapat lima pilihan roasted beans dari berbagai roastery, baik yang biji kopinya berasal dari petani kopi lokal hingga kopi-kopi internasional. Kedai yang awalnya hanya menggunakan metode manual brew kini menambah mesin espresso lengkap dengan grinder yang mumpuni. Tidak tanggung-tanggung, saat ini Pitutur Kopi dipersenjatai La Marzocco Linea Mini dengan tiga grinder, yaitu Mahlkonig Ek43, Mazzer Super Jolly dan Mazzer Mini Major untuk setiap kebutuhan menu kopi.


Berawal dari menu kopi manual brew yang minimalis dan ditambah minuman coklat, kini jumlah menu minuman di Pitutur Kopi berjumlah 29 menu minuman. Meramaikan kancah kopi susu dengan signature drink bernama dan bercita rasa unik seperti kopi susu Tinular, Kalandra dengan tambahan cokelat, kopi susu bernuansa floral di Mandaka, dan kubus kopi yang disiram susu untuk Subako. Kudapan yang ditawarkan berupa bakery, french fries, dan potato wedges. Harga untuk minuman dan makanan di sini mulai dari Rp 15.000 sampai Rp 27.000.

Kedai yang buka 26 September 2016 ini sedikit banyak terbantu dari sebuah posting Instagram di akun @klinikkopi di masa awal buka. Ponco menuturkan bahwa gambar yang diunggah Mas Pepeng berdampak positif bagi kedai kopinya. Follower Instagram yang tadinya berjumlah 30, naik 10 kali lipat menjadi 300 follower. Begitu juga dengan pelanggan baru yang mulai berdatangan.

Perjalanan Pitutur Kopi bukan tanpa hambatan. Tamu yang datang kerap mempertanyakan sajian menu yang terbilang amat sedikit untuk sebuah kedai kopi. Pegawai datang silih berganti dikarenakan pemilik kedai kopi ini kesulitan untuk mengomunikasikan apa yang ia inginkan dan kebiasannya bekerja sendirian sekaligus sungkanan. Catatan penjualan sempat diabaikan di setengah tahun awal perjalanan sehingga tidak ketahuan berapa pemasukan dan pengeluaran. Ponco akhirnya sadar untuk menambah menu, menyusun standard operational procedure (SOP) untuk pegawai, dan perlahan-lahan belajar pembukuan.


“Mau nggak mau harus getih dulu”, ucap Ponco yang berperan ganda sebagai pemilik sekaligus barista. Meski memiliki peran ganda, ia tidak serta merta mendapat gaji dari dua peran tersebut. Ia masih bersusah-susah terlebih dahulu dengan hanya mengambil gajinya sebagai pemilik, gaji sebagai barista ia abaikan sementara untuk menambah dana operasional kedai.             

Tidak mudah bertahan di tengah pertumbuhan pesat kedai kopi di kawasan kota pelajar ini. Banyak yang tumbuh, banyak juga yang gugur. Bertahan bukan menjadi perkara mudah. Salah satu kunci untuk bertahan adalah mengembangkan kedai ke arah yang lebih baik. Saat ditanya bagaimana langkah Pitutur Kopi bertahan dan mengembangkan diri, Ponco menjelaskan:  

“Perbanyak evaluasi ke diri atau warungnya. Jadi, persepektif berkembang itu tidak melulu dari jumlah gelas yang keluar tetapi bagaimana kita mengevaluasi kualitas. Dan kualitas itu dicapai dengan evaluasi wawasan kita, pemahaman kita kemudian sajian (bagaimana kopi yang enak seperti apa, ekstrasinya, cara menyajikan), set ruang tata ruang, kebersihan, komunikasi. itu sebenarnya yang disebut berkembang. Dan itu menurutku, berefek. Jangan berhenti untuk berkembang. Kalau bertahan jatohnya keras kepala.”

Ponco menambahkan bahwa jika warung kopi ingin berkembang maka orang-orang di dalamnya juga harus ikut berkembang terlebih dahulu. Nantinya akan ada yang terasa dan terlihat seiring dengan perkembangan tersebut. Selain itu, ada nilai-nilai yang ia percayai untuk mendatangkan pelanggan.
“Aku percaya, Apa yang ditanam akan menuai. Dari dulu aku tertarik dengan konsep terima kasih. Apa yang kita terima, kita kasih lagi ke orang lain. Aku ingin orang datang untuk beli tetapi juga sebagian dari yang kita dapatkan dari orang tersebut, kita alokasikan ke buku yang kemudian mereka bisa mengaksesnya. Itu kan kasih-nya, kasih-nya dalam bentuk buku. Konsep itu menurutku bekerja di luar kalkukasi marketing, manajemen yang selagi kita masih yakin dengan hal seperti itu warung bakal ada jalannya sendiri. Lebih kayak hal yang sifatnya ke dimensi kebaikan atau ketuhanan seperti itu. Biar optimis dan nggak ngoyo-ngoyo banget. Nggak terlalu bergantung banget dengan kerja keras. Sebenarnya, ada energi-energi lain yang tahu-tahu ada jalannya, kayaknya nggak masuk tapi semesta memberikan jalannya.”



Konsep mengembangkan diri dan nilai-nilai yang dipercayai Pitutur Kopi membawa kedai ini masuk ke tahun ketiga di tahun 2018 ini dengan omset mencapai 20 juta rupiah per bulan. Ke depannya, Pitutur Kopi berharap memiliki tempat usaha dan perpustakaan sendiri. Harapan lainnya adalah para penikmat kopi memiliki wawasan terbuka sehingga kopi tidak hanya dipandang sebagai si kopi, tetapi kemudian orang mulai sadar ketika membeli kopi dengan harga tertentu ternyata ada sekian banyak proses. Hal inilah yang kemudian membuat secangkir kopi sangat layak untuk dibayar dengan harga tersebut.


Sudah sejauh ini jalannya, satu capai yang tidak pernah terkira
Mengingat bagaimana mulanya, jauh sudah dari yang terbayang
Bagaimanapun juga, merawat cita-cita tak semudah berkata-kata
Rencana berikutnya rajut lagi cerita, merapal doa, dan gas sekencangnya.
(Gas - FSTVLST)

Beli biji kopi pilihan (roasted beans) Pitutur Coffee Roasters di sini (Tokopedia)

Pitutur Kopi buka Selasa - Minggu jam 14.00-23.00 WIB di Jalan Bausasran No. 60, Yogyakarta. 
Info lebih lanjut cek Instagram @pituturkopi

No comments:

Post a Comment